PENERIMAAN MAHASISWA BARU

Informasi Program

Informasi Program S1 Filsafat Agama Informasi Program S2 Teologi Kontekstual

Pendaftaran Online

Isilah dengan lengkap Formulir Biodata Pendaftaran Mahasiswa Baru. (Bukti Pembayaran ...

Unduh Brosur Pendaftaran

Formulir Pendaftaran Program S1 Filsafat Agama Formulir Pendaftaran Program S2 Teolog...

Pengumuman

 o Informasi Pendaftaran dan Seleksi Mahasiswa Baru Program Studi Sarjana (S1) Filsaf...

BELAJAR DARI KASUS RENSI AMBANG

27 August 2018 Antonius Mbukut Opini

Kastra.co – Beberapa hari terakhir istilah “supaya laos” mendadak viral di media sosial. Istilah ini dikutip dari sebuah video berdurasi 11 menit 18 detik yang disiarkan secara live di facebook oleh akun bernama Chantika Alva Ambang pada Kamis (23/8/2018). Dalam video tersebut nampak Rensi Ambang (RA) tengah memarahi seorang pria yang disebut-sebut berasal dari daerah Nampar Macing, Kabupaten Manggarai Barat. Dalam tanyangan itu ia beberapa kali melayangkan pukulan dan memberikan ancaman kepada si pria. Penyanyi bersuara khas tersebut kesal, lantaran pria tersebut ketahuan diam-diam mengajak istrinya untuk berselingkuh. Belakangan diketahui bahwa si pria yang dipukul dalam video tersebut adalah Melkior Marseden Semahu alias Eki.

Dalam video tersebut Eki tidak melakukan perlawanan sama sekali atas perlakuan RA. Ia hanya tertunduk diam dan sesekali meringis kesakitan saat dipukul. Ia nampak seperti sedang menyesali perbuatannya yang keliru itu dan tidak membantah sedikitpun. Dalam klarifikasinya yang kemudian banyak diberitakan, ia mengaku menyambangi kediaman RA dengan maksud menyampaikan permohonan maaf secara adat Manggarai. Ia berharap tidak ada kesalahpahaman yang terjadi antara masing-masing pihak.

Sayang bagi Eki, kehadirannya diterima dengan kemarahan dan sikap kasar RA dan rekan-rekannya. Atas peristiwa kekerasan yang dialaminya itu, Eki berniat melaporkan RA ke Polres Manggarai.

Reaksi Negatif Netizen

Aksi RA dalam video tersebut ditanggapi beragam oleh netizen. Sebagian besar sekedar menjadikan video tersebut bahan candaan. Mungkin karena bahasa yang dipakai RA dalam mengungkapkan kemarahannya itu gado-gado. Ia menggunakan bahasa Indonesia, dengan beberapa kata dalam bahasa Manggarai dan beberapa kata bahasa Inggris.

Istilah “supaya laos” menjadi yang paling disoroti dalam video tersebut. Ungkapan tersebut terdiri dari satu kata bahasa Indonesia; supaya dan satu kata bahasa Manggarai; laos. Kata laos dalam bahasa Manggarai berarti turut merasakan atau turut mengambil bagian. Dengan demikian, istilah supaya laos secara bebas dapat diartikan: “supaya turut merasakan” atau “supaya turut mengambil bagian”.

Reaksi negatif muncul agak terlambat, baru setelah beberapa media memberitakan perbuatan RA sebagai dugaan tindak kekerasan. RA dinilai main hakim sendiri atau semena-mena melakukan pemukulan terhadap Eki. Bahkan beberapa netizen menginginkan supaya RA segera dipolisikan atas perbuatannya itu.

RA jelas menghendaki peristiwa serupa tidak berulang menimpa dirinya atau orang lain. Niatan RA jelas mencoba memberi efek jera bagi eki dan calon-calon pelaku lainnya. Sayangnya aksinya mendapatkan penolakan. Sebab di negara Hukum, yang patut dikedepankan adalah mekanisme hukum yang berlaku sesuai jalurnya. Siapapun tidak diperkenankan melakukan tindakan kekerasan yang melanggar hukum. Apalagi yang dilakukan RA adalah mempertontonkan aksinya itu ke ruang publik.

Kejadian ini memperlihatkan bagaimana publik media sosial memiliki mekanisme sanksi sosial tersendiri bagi orang-orang yang melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Sanksi utama publik media sosial adalah sindiran dan kecaman. Sindiran dan kecaman dari publik media sosial sebenarnya tidak boleh berlebihan. Sebab niatan RA dan rekan-rekannya adalah memberikan pelajaran berarti bagi semua pihak khususnya Eki, untuk memanfaatkan media sosial secara baik dan bertanggung jawab. Jangan menjadikan media sosial sebagai sarana untuk mengganggu apalagi mengajak selingkuh istri/suami orang

Opsi Penyelesaian

Dalam konteks persoalan keluarga saudara Rensi Ambang, keluarga sebenarnya memiliki dua opsi penyelesaian masalah yang wajar, yaitu secara adat dan secara hukum formal. Secara adat, keluarga saudara Rensi Ambang sebenarnya berhak untuk mendatangi keluarga si laki-laki guna menasihati dan menuntut permohonan maaf dari si laki-laki terhadap keluarga saudara Rensi Ambang.

Jika prosedur adat seperti itu tidak berkenan di hati, keluarga saudara Rensi Ambang sebenarnya memiliki opsi lain yaitu melaporkan kejadian tersebut kepada pihak yang berwajib guna memeroses si pelaku. Aksi main hakim sendiri tidak perlu dilakukan. Namun demikian, kejadian ini tetap mengajarkan kita dua hal penting ini, yaitu tidak boleh memanfaatkan media sosial secara tidak bertanggung jawab dan tidak boleh melakukan aksi main hakim sendiri.

Kasus yang menyita perhatian publik ini masih menyisahkan episode-episode lanjutan, apabila tidak segera diselesaikan. Apalagi bila tidak ada jalan keluar perdamaian yang diambil kedua belah pihak. Semoga kasus ini menjadi pembelajaran yang berharga bagi semua pihak agar lebih bijaksana dalam menyelesaikan sebuah persoalan. Salam

Antonius Mbukut, Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero Maumere, Flores.

universitas kepausan gregoriana seminari ledalero perpus plti alberta kanada2 cogito penerbit ristek dikti sinta kover ritapiret