PENERIMAAN MAHASISWA BARU

Informasi Program

Informasi Program S1 Filsafat Agama Informasi Program S2 Teologi Kontekstual

Pendaftaran Online

Isilah dengan lengkap Formulir Biodata Pendaftaran Mahasiswa Baru. (Bukti Pembayaran ...

Unduh Brosur Pendaftaran

Formulir Pendaftaran Program S1 Filsafat Agama Formulir Pendaftaran Program S2 Teolog...

Pengumuman

 o Informasi Pendaftaran dan Seleksi Mahasiswa Baru Program Studi Sarjana (S1) Filsaf...

PENJABAT GUBERNUR NUSA TENGGARA TIMUR MEMBERIKAN KULIAH UMUM DI STFK LEDALERO

27 August 2018 Mahasiswa

 

            Senin, 27 Agustus 2018, penjabat Gubernur Nusa Tenggara Timur, bapak Drs. Robert Simbolon, MPA memberikan kuliah umum di STFK Ledalero. Peserta kuliah umum tersebut antara lain para dosen STFK Ledalero, mahasiswa/I STFK Ledalero dan rombongan penjabat Gubernur NTT, baik dari tingkat provinsi maupun dari tingkat kabupaten Sikka.

            Kuliah umum tersebut diawali dengan kata sambutan dari Ketua STFK Ledalero, P. Dr. Otto Gusti, SVD. Dalam kata sambutannya, beliau mengucapkan selamat datang kepada bapak penjabat Gubernur NTT beserta rombongan dan menyampaikan ucapan terima kasih karena sudah berkenan meluangkan waktu untuk memberikan kuliah umum di STFK Ledalero. Lebih lanjut, beliau menginformasikan tahun berdirinya STFK Ledalero dan jumlah mahasiswa/I yang belajar di STFK Ledalero. “STFK Ledalero diakui oleh pemerintah Indonesia sebagai sebuah perguruan tinggi pada tahun 1969 dan pada tahun 2019 akan memasuki usia emas berdirinya”, kata P. Otto, SVD. “Salah satu tridarma perguruan tinggi adalah pengabdian kepada masyarakat. Saya berterima kasih kepada bapak penjabat gubernur NTT karena sudah berkenan hadir untuk mengadakan dialog dengan kami dalam rangka menanggapi masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat NTT sehingga kami juga mampu memberikan masukan-masukan konstruktif yang berguna bagi kehidupan warga NTT. Dalam hal inilah, kami sudah melaksanakan satu dari tridarma perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat”, lanjut Pater ketua sekolah.kuliah umum penjabat gubernur 1

Nusa Tenggara Timur dalam Tantangan

            Kuliah umum yang diberikan oleh bapak penjabat gubernur NTT berlangsung selama satu jam lima belas menit yaitu dari pukul 16.00 sampai pukul 17:15. Kuliah umum ini dimoderatori oleh saudara Roy Nage, mahasiswa pascasarjana teologi kontekstual di STFK Ledalero. Dalam kata pengantarnya, moderator menegaskan bahwa diskursus seputar kehidupan berbangsa dan bernegara tidak akan pernah berhenti sebab selalau saja ada banyak tantangan yang dihadapi yang menghambat terwujudnya bonum commune. Setelah menyampaikan kata pengantar, moderator memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada bapak penjabat gubernur NTT untuk menyampaikan materi kuliah umum.

            Indonesia sudah memasuki usia 73 tahun. Pertanyaan fundamental yang muncul adalah apakah pada usia 73 tahun ini, rakyat Indonesia sudah mengalami kesejahteraan hidup? Sekalipun Indonesia secara konstitusional sudah merdeka selama 73 tahun, Indonesia sebagai sebuah negara kesatuan tetap menghadapi berbagai persoalan fundamental yang berimbas pada kemandekan perwujudan kebaikan bersama. Persoalan yang paling tampak adalah nilai-nilai khas Indonesia mulai mengalami kehancuran. “Banyak pihak yang mulai merusakkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Lebih ekstrim lagi yaitu kenyataan bahwa ada oknum-oknum tertentu yang ingin mengubah Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia. Sebuah penelitian juga mengungkapkan bahwa sekitar 21% anak muda Indonesia generasi milineal tidak bisa lagi melafalkan sila-sila dalam Pancasila.”, tegas bapak penjabat Gubernur NTT.

            Bapak Robert melanjutkan bahwa dalam kehidupan bernegara, ada dua dimensi yang perlu diperhatikan yaitu dimensi vertikal yaitu dimensi yang berusaha menjelaskan hubungan antara negara dan masyarakat dan dimensi horizontal yaitu dimensi yang berusaha menjelaskan hubungan antara masyarakat dengan sesama masyarakat.“Indonesia memiliki 300 etnis dengan 700 suku. Secara horizontal, tidak boleh ada pemikiran untuk tidak menjaga keharmonisan hubungan antara suku dan antara etnis. Persatuan Indonesia adalah sesuatu yang dinamis, akan terwujud secara baik kalau ada kerja sama di antara warga negara Indonesia”, ungkap beliau.

            Bapak penjabat gubernur NTT, dengan nada yang sangat tegas, mengungkapkan bahwa tantangan yang dihadapi oleh Negara Indonesia dan terkhusus NTT sebagai sebuah propinsi adalah ketiadaan lapangan pekerjaan yang memadai bagi generasi-generasi muda. Ketiadaan lapangan pekerjaan di NTT menjadi semacam daya yang mendorong generasi muda Indonesia untuk meninggalkan NTT dan mengadu nasib di negara-negara lain. “Saat ini, yang perlu diperhatikan oleh pemerintah NTT saat ini adalah menciptakan lapangan pekerjaan. Kesuksesan pemerintah NTT dalam menciptakan lapangan pekerjaan bagi generasi mudanya menjadi daya yang menarik generasi muda untuk tidak meninggalkan negara atau daerah asal dan mengadu nasib di negara-negara lain”, tandas bapak Robert.

            NTT sebagai propinsi sering digelari sebagai propinsi terbelakang dan termiskin. Kenyataan ini harus menjadi stimulus yang mendorong munculnya kemauan kolektif untuk menjadikan NTT sebagai propinsi Nusa Tenaga Kerja. NTT sebagai sebuah propinsi harus memiliki masyarakat yang sehat. Masyarakat yang sehat adalah salah satu prasyarat penting menuju ke produktivitas. Di NTT, belum 100% masyarakatnya yang bebas dari penyakit malaria, sebagian lagi masyarakat NTT masih dilanda oleh gizi buruk. Dalam konteks kehidupan sosial, sering terjadi fenomena kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Hal yang perlu mendapat perhatian juga adalah masalah sosio-kultural. Dalam kenyataannya, NTT sebagai sebuah propinsi memiliki kekayaan kultural yang jarang dimiliki oleh daerah-daerah lain dan bahkan oleh negara-negara lain. “Untuk itulah, rakyat NTT perlu menjaga dan merawat kekayaan kultural yang dimiliki oleh NTT”, saran bapak penjabat gubernur NTT.

Kebaikan Bersama

            Kebaikan bersama bukanlah sesuatu yang terberi, melainkan didapat karena adanya usaha dan perjuangan. Untuk itulah, rakyat NTT harus selalu berjuang secara bersama-sama untuk mengusahkan kebaikan hidup bersama di Propinsi NTT. Sebagai mahasiswa, secara khusus, hal penting yang perlu dibuat adalah belajar, belajar, dan belajar. Mahasiswa perlu mengkonfrontasikan teori-teori yang dipelajarinya dengan realitas kehidupan bermasyarakat sehingga bisa berpikir kritis dalam menanggapi masalah-masalah dalam hidup bersama dan juga dalam menemukan solusi-solusi alternatif untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. “Mahasiswa perlu memiliki sikap optimis. Orang yang tidak optimis bukan hanya orang yang gagal, tetapi juga dikategorikan sebagai orang berdosa sebab optimis berhubungan erat dengan nilai-nilai kristiani yaitu iman, kasih, dan harap. Orang yang berharap adalah orang yang optimis bahwa sesuatu yang diharapkkan akan benar-benar terwujud”, tegas bapak penjabat gubernur NTT.

Materi kuliah umum yang diberikan oleh bapak penjabat gubernur NTT memantik gairah intelektual mahasiswa STFK Ledalero untuk memberikan pertanyaan. Moderator memberikan kesempatan kepada dua orang mahasiswa untuk bertanya. Ferdi Jehalut, mahasiswa semester 5, dari konvik Ledalero mengajukan dua pertanyaan yaitu Keberhasilan implementasi nilai-nilai Pancasila menghadapi gugatan berarti dari kemunculan berbagai ormas-ormas radikal. Apa peran pemerintah berhadapan dengan persoalan tersebut? Apakah kemiskinan di NTT terjadi karena budaya korupsi ataukah korupsi itu terjadi karena kemiskinan? Menanggapi pertanyaan tersebut, bapak penjabat gubernur NTT menjelaskan bahwa sosialisasi Pancasila dicurigai kurang menyentuh esensi dasar dari bangunan Pancasila itu sendiri. Sila-sila Pancasila merupakan syarat-syarat nilai. Dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila, Bangsa Indonesia menghadapi situasi paradoksal. Kebebasan sebagai salah satu pilar demokrasi memberi ruang bagi kelompok-kelompok yang justru bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Akan tetapi, Pancasila pada dasarnya merepresentasikan nilai-nilai yang dihidupi oleh masyarakat Indonesia. Sila pertama misalnya merepresentasikan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang meyakini adanya Tuhan yang Maha Esa. Nilai religius tersebut mesti mewajah dalam realitas nyata seperti penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan (sila kedua). Sila ketiga menunjukan bahwa masyarakat Indonesia yang percaya kepada Tuhan yang Maha Esa memiliki keberagaman yang mesti dijaga kesatuan dan persatuannya. Untuk itu, dibutuhkan suatu metode kerja agar nilai-nilai tersebut dapat dibumikan. Itulah yang disebut sebagai sistem permusyawaratan/perwakilan (sila keempat). Dengan demikian cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (sila kelima) dapat tercapai.

Kemiskinan dan korupsi merupakan dua variabel yang tidak memiliki korelasi mutlak. Artinya, korupsi bukan menjadi satu-satunya faktor kemiskinan, pun sebaliknya. Baik korupsi maupun kemiskinan merupakan dua variabel yang berdiri sendiri. Orang miskin maupun orang kaya memiliki peluang yang sama untuk melakukan tindakan korupsi. Di samping itu, kemiskinan menjadi sebuah persoalan yang kompleks. NTT menjadi miskin karena mengalami keterlambatan dalam pembangunan.

kuliah umum penjabat gubernur 3Donatus Vedin, mahasiswa semester 7, dari konvik Ritapiret, mempersoalkan NKRI harga mati. Slogan NKRI menghadapi tantangan ketika berhadapan dengan fenomena ketidakseimbangan pembangunan. Slogan tersebut tampaknya mempertahankan status quo dari patologi sosial tersebut. Menanggapi pertanyaan tersebut, bapak Robert menjelaskan bahwa berhadapan dengan persoalan tersebut, penting bagi kita untuk menjaga rasa kesebangsaan. Harus diakui fenomena yang mengganggu NKRI itu sudah menunjukan sinyalemen negatif. Misalnya, tindakan tidak elok yang ditunjukkan oleh mereka yang memiliki kekuasaan terhadap kelompok masyarakat yang tidak memiki kekuasaan. Akan tetapi, kenyataan tersebut tidak boleh membuat kita menjadi pesimis terhadap nilai kesatuan bangsa kita. Masing-masing kita mempuanyai tanggung jawab untuk menjaga kesatuan Negara, termasuk juga persamaan pembangunan pada setiap wilayah kesatuan Republik Indonesia.

            Kuliah umum yang dibawakan oleh bapak penjabat gubernur NTT diakhiri dengan foto bersama rombongan penjabat gubernur NTT dengan para dosen STFK Ledalero. Selanjutnya, rombongan bapak penjabat gubernur NTT meninggalkan STFK Ledalero dan beranjak ke Ritapiret untuk mengunjungi kamar Paus Yohanes Paulu II, salah satu wisata rohani yang ada di wilayah Keuskupan Maumere. (Jean Loustar Jewadut)

seminari ledalero ristek dikti alberta kanada2 perpus cogito plti sinta kover penerbit ritapiret kopertis8