PENERIMAAN MAHASISWA BARU

Informasi Program

Informasi Program S1 Filsafat Agama Informasi Program S2 Teologi Kontekstual

Pendaftaran Online

Isilah dengan lengkap Formulir Biodata Pendaftaran Mahasiswa Baru. (Bukti Pembayaran ...

Unduh Brosur Pendaftaran

Formulir Pendaftaran Program S1 Filsafat Agama Formulir Pendaftaran Program S2 Teolog...

Pengumuman

 o Informasi Pendaftaran dan Seleksi Mahasiswa Baru Program Studi Sarjana (S1) Filsaf...

SAYEMBARA NASIONAL PENULISAN ARTIKEL ILMIAH SENAT MAHASISWA SEKOLAH TINGGI FILSAFAT KATOLIK LEDALERO PERIODE 2017/2018

23 February 2018 Mahasiswa

Pada dasawarsa 1860-an, di Rusia hadir satu kelompok sosial baru dalam masyarakat yang terdiri dari kaum terpelajar yang pernah mengenyam pendidikan formal di Eropa Barat. Mereka merasa terpanggil secara moral untuk mengubah sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat dan mengatur ulang prioritas pengembangan hidup sosial, budaya dan normatif masyarakatnya. Usaha membaharui masyarakat ini disatukan oleh solidaritas demi mewujudkan cita-cita kemanusiaan. Kelompok ini selanjutnya menyebut dirinya sebagai kaum-kaum intelektual (F. Ceunfin, 2003:62).

Golongan intelektual adalah nama lain dari kaum cendekiawan. Akhir-akhir ini, di tengah segala krisis yang mengusik pikiran dan nurani manusia, baik pada skala mikro (tingkat nasional) maupun pada skala makro (tingkat mondial), tuntutan akan kemanusiaan menjadi satu prioritas hidup. Kemanusiaan menyiratkan tanggung jawab moral setiap orang. Setiap orang selalu dituntut untuk memiliki pandangan yang majemuk tentang kehidupan sebagai keseluruhan, juga kepekaan terhadap tuntutan khusus saat kini yang menyiratkan imperatif moral tertentu. Setiap kita sebagai pribadi memiliki peluang untuk memahami dan menghayati nilai-nilai khusus dan memanggil manusia untuk mengambil tindakan-tindakan tertentu sebagai tanggapan etis.

Persoalan-persoalan kemanusiaan adalah tanggung jawab besar para cendekiawan. Martabat seorang cendekiawan idealnya terikat dengan sense of morals and ethics. Ia harus memperjuangkan the common good, ranah kebenaran, kejujuran, keadilan, cinta kasih, pemerdekaan dan perdamaian. Seorang cendekiawan terpanggil untuk mengabdikan diri demi mencari kebenaran dan mengembangkan secara mendalam dan utuh sisi rohani manusia. Demi panggilan itu, ia tak akan pernah puas dengan kebenaran yang setengah-setengah dan berhenti pada karya-karya lepas yang tercecer. Seorang cendekiawan harus melaksanakan panggilannya dengan baik dan tepat. Ia bekerja secara manusiawi. Bekerja secara manusiawi berarti bekerja dengan kepedulian sebagai manusia, peka terhadap kebutuhan-kebutuhan manusia, dan mengusahakan solidaritas yang menyatukan dalam kehidupan bersama.

Sharif Shaary, dramawan Malaysia, seperti tertulis dalam Wikipedia mengungkapkan bahwa cendekiawan sering dikaitkan dengan para lulusan universitas, padahal belajar di universitas bukan jaminan seseorang dapat menjadi cendekiawan. Sharif secara lanjut mengatakan bahwa seorang cendekiawan adalah pemikir yang senantiasa berpikir dan mengembangkan serta menyumbangkan gagasannya untuk kesejahteraan masyarakat. Ia juga adalah seseorang yang menggunakan ilmu dan ketajaman pikirannya untuk mengkaji, menganalisis, merumuskan segala perkara dalam kehidupan manusia, terutama masyarakat di mana ia hadir khususnya dan di peringkat global umum untuk mencari kebenaran dan menegakkan kebenaran itu. Lebih dari itu, seorang intelektual (cendekiawan) ialah seseorang yang mengenali kebenaran dan juga berani memperjuangkan kebenaran itu meskipun menghadapi tekanan dan ancaman.

Pengkhianatan kaum cendekiawan terjadi bila mereka ikut serta dalam kooptasi kekuasaan politik dengan pamrih tertentu, dengan akibat bahwa mereka mengabaikan tanggung jawab dasar untuk mempertahankan nilai-nilai luhur dan etis profesi mereka. Kaum cendekiawan dipanggil untuk memperjuangkan dan membela nilai-nilai mutlak dan abadi kemanusiaan. Nilai-nilai itu intrinsik dalam diri manusia yakni martabat dan harkat manusia, yang terungkap dalam nilai-nilai derivatif seperti kebebasan, keadilan, kerja, politik, teknik, dan sebagainya. Pengkhianatan itu terkait dengan krisis identitas dan berakar dalam pemahaman (nalar) yang rancu dan penghayatan (nurani) yang tidak konsisten atas nilai-nilai itu, serta komitmen yang setengah-setengah untuk mewujudkannya secara sosial.

Walaupun kiprah cendekiawan cenderung bersifat ideal dan teoretis, hal itu selalu terkait dengan pemihakan dan perwujudan nilai-nilai untuk semakin memperkaya hidup manusia. Pembangkangan itu selalu bertolak dari rumpang antara kenyataan dan cita-cita. Guru dan hakim kebenaran adalah nilai-nilai yang bersumber pada kebenaran, dan diuji dalam tanggung jawab etis serta berakar dalam nurani yang bening. Oleh sebab itu, kaum cendekiawan selalu harus siap berdiskusi, saling membagi perspektif dan memandang segala sesuatu dalam cakrawala yang luas yaitu dalam keseluruhan eksistensi manusia. Tegas kata, seorang cendekiawan harus mampu mewujudkan misi emansipatoris ilmu pengetahuan dengan meninggalkan menara gading ilmunya dan terlibat dalam pergulatan hidup konkret masyarakat sambil tetap bersikap ilmiah (Otto Gusti, 2013:11).

Berhadapan dengan ini, Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero mengangkat tema “CENDEKIAWAN TERLIBAT” sebagai tema JURNAL ILMIAH AKADEMIKA Vol. XIII, No. 2, Edisi Januari-Juni 2018. Tema ini mau mengajak segenap mahasiswa dan masyarakat umum untuk mengemukakan pemikiran-pemikiran menarik serta temuan-temuan kritisnya berkaitan dengan keterlibatan kaum cendekiawan guna menghadapi segala bentuk ‘cacat’ dan ‘krisis’ dalam bidang apa saja yang terjadi dewasa ini. Untuk menjawabi hal ini, Senat Mahasiswa STFK Ledalero mengajak para mahasiswa dan masyarakat umum untuk terlibat memberikan gagasan-gagasan kritis, konstruktif, inovatif dalam SAYEMBARA PENULISAN ARTIKEL ILMIAH. Kami mengharapkan partisipasi aktif dari setiap orang untuk dapat mengumpulkan karya tulisan terbaiknya guna membangun kemanusiaan kita yang lebih baik dan bermartabat.

Format Naskah

  1. Naskah ilmiah ditulis dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan kaidah bahasa yang baik dan benar sambil memperhatikan kelogisan dan urutan pembahasan.
  2. Tulisan yang dikirimkan dapat berupa hasil penelitian atau kajian analitis kritis di bidang filsafat, teologi, ilmu-ilmu sosial dan kebudayaan.
  3. Panjang Naskah 6-8 halaman, diserahkan dalam bentuk digital yang diketik dengan MS Word, dan disimpan dalam jenis file Rich Text Format (RTF).
  4. Ukuran kertas A4, spasi 1,15 dengan margin atas 3 cm, kiri 4 cm, bawah 3 cm, dan kanan 3 cm.
  5. Nomor halaman terletak di kanan bawah.
  6. Huruf menggunakan font Times New Roman 12.
  7. Penggunaan catatan kaki. Teknik kutipan catatan kaki (footnotes) menggunakan format atau tatacara seperti berikut:

                       1 Suwardi Endraswara, Teori Kritik Sastra (Yogyakarta: CAPS, 2013), hlm. 81

                       2 John Mansford Prior, “Narasi Diri”, Jurnal Ledalero, 11:1 (Ledalero, Juni 2012), hlm. 2-5.

                       3 Redem Kono, “Menolak Adorno, Menerima Rorty, Catatan Untuk Yohanes Sehandi”, Pos Kupang [Kupang], 28/07/2016.

                       4 Garuda Pancasila (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Garuda_Pancasila, diakses 11 Desember 2016).

       8. Daftar Pustaka. Publikasi yang digunakan sebagai referensi dalam penulisan tersebut menggunakan pola seperti berikut:

      Endraswara, Suwardi. Teori Kritik Sastra. Yogyakarta: CAPS, 2013

      Kurnia, Anton. Mencari Setangkai Daun Surga, Jejak Perlawanan Manusia Atas Hegemoni Kuasa, Esai-Esai Sastra,

          Politika dan Budaya.Yogyakarta: IRCioD, 2016

      Damono, Sapardi Djoko “Kritik Sosial dalam Sastra Indonesia: Lebah Tanpa Sengat” dalam Prisma, No. 10 (Oktober),

         Th VI, 1997, hal 53-61

 DOWNLOAD METODE PENULISAN

Ketentuan Peserta

1. Penulis terdiri dari mahasiswa dan masyarakat umum.

2. Penulis dapat merupakan individu atau kelompok dengan jumlah maksimal 3 orang. Pada penulisan subyek email bagi tulisan kelompok,

    identitas yang digunakan adalah identitas ketua kelompok dan identitas anggota dilampirkan dalam email yang sama;

3. Setiap peserta wajib menuliskan biodata singkat (Nama, Alamat, No Hp, Email).

4. Karya yang dikumpulkan merupakan karya orisinil sendiri dan belum pernah dipublikasikan dalam media cetak atau media online apapun.

5. Deadline pengumpulan artikel ilmiah dilakukan pada tanggal 31 Maret 2018 dan hasil pengumuman perlombaan akan dilakukan

    setelah pemeriksaan oleh dewan juri.

 

Penyerahan Tulisan

1. Soft copy dikirimkan dengan format RTF ke alamat e-mail franokleden@gmail.com

   dengan subjek Nama_JudulKarya_Alamat_NomorPonsel.

2. Setiap karya yang sudah dikirim kemudian harus dikonfirmasi ke Frano Kleden (Hp dan WA: 082237675566).

3. Setiap karya yang mengikuti kompetisi ini menjadi hak milik dari panitia.

 

Penentuan Seleksi

1. Dewan juri dalam sayembara ini adalah para dosen dari STFK Ledalero yakni Dr. Mathias Daven (dosen Filsafat),

    Dr. Aleksander Jebadu (dosen Misiologi) dan Drs. Ferdinandus Sebho (dosen Moral).

2. Hasil seleksi berupa 6 karya terbaik akan dimuat dalam Jurnal Ilmiah AKADEMIKA.

3. 6 karya terbaik akan mendapatkan Sertifikat, Jurnal Ilmiah AKADEMIKA, dan Uang Tunai masing-masing berupa Rp 1.000.000, Rp 700.000, Rp 500.000, Rp 200.000 (4-6).

 

Contact Person

WhatsApp/SMS ke 082237675566 atas nama Frano Kleden,

email: franokleden@gmail.com, website: stfkledalero.ac.id

 

 

Mengetahui:

 

  Ketua STFK Ledalero                                                        Ketua Panitia Sayembara

 

Drs. Bernardus Raho, M.A.                                                    Fransiskus Bala Kleden

seminari ledalero ristek dikti alberta kanada2 perpus cogito plti sinta kover penerbit ritapiret kopertis8