PENERIMAAN MAHASISWA BARU

Informasi Program

Informasi Program S1 Filsafat Agama Informasi Program S2 Teologi Kontekstual

Pendaftaran Online

Isilah dengan lengkap Formulir Biodata Pendaftaran Mahasiswa Baru. (Bukti Pembayaran ...

Unduh Brosur Pendaftaran

Formulir Pendaftaran Program S1 Filsafat Agama Formulir Pendaftaran Program S2 Teolog...

Pengumuman

 o Informasi Pendaftaran dan Seleksi Mahasiswa Baru Program Studi Sarjana (S1) Filsaf...

SENAT MAHASISWA STFK LEDALERO HADIRI DISKUSI PUBLIK MEMPERINGATI HARI LAHIRNYA PANCASILA

01 June 2018 Mahasiswa

            Memperingati hari lahirnya pancasila, Senat Mahasiswa STFK Ledalero mengikuti kegiatan diskusi publik dengan tema “ Ideologi Pancasila dalam Kepungan Radikalisme dan Terorisme” yang diselenggarakan oleh PMKRI Cabang Maumere, pada Jumad (1/6) di Aula Nawa Cita, Universitas Nusa Nipa Maumere. Hadir sebagai pembicara utama dalam diskusi publik ini adalah Pater Hendrik Maku, SVD (dosen Islamologi pada STFK Ledalero) dan Silvanus Keo Baghi (penulis buku “Negara  Bukan-Bukan”). Tampil sebagai moderator dalam kegiatan diskusi publik ini adalah Dr. Gery Gobang, yang juga adalah Wakil Rektor 1 Unipa Maumere.dikusi publik pancasila

            Diskusi publik ini juga dihadiri oleh Plt. Bupati Sikka, Drs. Paulus Nong Susar, Pewakilan dari pihak TNI, anggota DPRD Sikka, segenap anggota PMKRI Cabang Maumere, para dosen, tokoh masyarakat, sejumlah organisasi kepemudaan dan sejumlah mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi yang berada di wilayah Kabupaten Sikka. Hadir mewakili senat Mahasiswa STFK Ledalero adalah Patrisius Haryono dan Hendrik Jehadi.

            Dalam sambutan untuk membuka seluruh rangkaian acara diskusi publik ini Ketua Presidium PMKRI cabang Maumere Benediktus Rani menegaskan bahwa Pancasila adalah dasar ideologi negara yang sudah final. Oleh karena itu menurut Rani, ideologi Pancasila mestinya tidak perlu diutak-atik oleh pihak manapun termaksud paham radikalisme dan aksi terorisme yang kini lagi gencar ingin memecahbelah kesatuan bangsa. Rani juga mengharapkan agar pemahaman nilai-nilai Pancasila itu sendiri tidak hanya sebatas pergulatan dalam ranah teroretis belaka, tetapi mestinya dihidupi dalam kehidupan nyata sebagai satu bangsa dan negara.

           Pater Hendrik Maku, SVD dalam pemaparan materinya menyampaikan beberapa hal penting mengenai pengertian dan akar dari radikalisme itu sendiri. Sementara itu dari pembicara kedua, Silvanus Keo Baghi, memaparkan materi mengenai relasi antara agama dan negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ulasan materi yang disampaikan oleh Silvanus Keo Baghi juga merupakan ringkasan dari buku yang ditulisnya sendiri dengan judul “Negara Bukan-Bukan.”

           dikusi publik pancasila 4Diskusi pada kesemptan ini berlangsung cukup alot dan menarik. Semua peserta rata-rata diberi kesempatan oleh moderator untuk menyampaikan pendapat dan buah-buah pikiran mereka mengenai keberadaan nilai-nilai Pancasila yang kini sudah semakin memudar dalam jiwa anak bangsa. Patrisius Haryono yang mewakili Senat Mahasiswa STFK Ledalero ketika diminta oleh moderator untuk menyampaikn buah-buah pikirannya mengenai kondisi nilai Pancasila yang sudah semakin  memudar dalam jiwa kaum muda sekarang mengungkapkan bahwa semuanya ini justru disebakan karena nilai Pancasila itu sendiri tidak lagi mampu menjiwai  kehidupan kaum muda. Untuk itu perlu upaya yang serius untuk betul-betul menanamkan nilai-nilai Pancasila secara rasional dalam diri kaum muda dan kaum terpelajar. Dengan adanya pemahaman nilai-nilai Pancasila secara rasional, kaum muda diharapkan agar tetap menjadikan ideologi Pancasila sebagai ideologi pilihan mereka di tengah kepungan berbagai ideologi yang hadir kini, termaksud ideologi yang berbau radikalisme. Sementara mengenai jiwa dari Pancasila yang sudah semakin memudar, Patris haryono mengungkapkan bahwa mesti adanya upaya untuk menemukan persolan bersama yang terjadi sekarang ini seperti masalah kemanusiaan, perdagangan orang, kemiskinan dan KKN yang semakin marak yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Dengan menemukan persolan bersama semacam ini, maka nilai Pancasila akan dirasa menjadi yang paling urgen sebagai jiwa yang menyatukan anak bangsa untuk menyelesaikan persolan bersama ini secara bersama-sama. “selama ini kita dikacaukan dengan berbagai ideologi yang jauh dari niali-nilai Pancasila karena orang justru menemukan persoalan-persolan itu secara sendiri-sendiri berdasarkan kepentingan kelompoknya”,  tandas Patris Haryono.

          Disksui publik kali ini ditutup dengan sebuah kesepakatan bersama bahwa nilai-nilai Pancasila masih cukup penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk itu penanaman kembali nilai-nilai Pancasila itu memang cukup penting dan mestinya terus diupayakan ke depan.

Penulis: Hendrik Jehadi

Galeri


 

dikusi publik pancasila 9dikusi publik pancasila 8dikusi publik pancasila 7dikusi publik pancasila 3

seminari ledalero ristek dikti alberta kanada2 perpus cogito plti sinta kover penerbit ritapiret kopertis8