PENERIMAAN MAHASISWA BARU

Informasi Program

Informasi Program S1 Filsafat Agama Informasi Program S2 Teologi Kontekstual

Pendaftaran Online

Isilah dengan lengkap Formulir Biodata Pendaftaran Mahasiswa Baru. (Bukti Pembayaran ...

Unduh Brosur Pendaftaran

Formulir Pendaftaran Program S1 Filsafat Agama Formulir Pendaftaran Program S2 Teolog...

Pengumuman

 o Informasi Pendaftaran dan Seleksi Mahasiswa Baru Program Studi Sarjana (S1) Filsaf...

SENAT MAHASISWA STFK LEDALERO IKUTI SEMINAR 20 TAHUN REFORMASI

26 May 2018 Mahasiswa

Memperingati 20 tahun reformasi, Divisi Perempuan TRUK-F bekerja sama dengan BMZ Caritas dan beberapa orgnisasi lain mengadakan seminar nasional di Aula Nawacita Unipa, Maumere, Sabtu (26/11). Dalam sambutan pembuka, Sr. Eustochia, SSpS selaku ketua panitia mengingatkan para peserta seminar terkait kemajuan pencapaian cita-cita reformasi. “Reformasi telah berjalan selama 20 tahun. Perjuangan bersama melepaskan diri dari penindasan orde baru. Apakah kita telah bebas sepenuhnya dari penindasan? Apa yang kita harapkan di era reformasi ini?”  ungkap Sr. Eustochia, SSpS dalam sambutannya. Selepas sambutan ketua panitia, acara pembukaan dilanjutkan dengan pemutaran video kaleidoskop era orde baru dan perjuangan menuju era reformasi.

seminar quo vadis 3Acara seminar yang dimoderasi oleh John Laba, SH ini tepat dimulai pada pukul 09.30 hingga pukul 13.45. Hadir sebagai narasumber utama dalam seminar ini yakni Dra. Ita Fatia Nadia, MA, Wahyudi Jafar, SH, Dr. Jonas K.G.D Gobang, P. Dr. Otto Gusti, SVD. Setiap narasumber mengupas tema berbeda yang berkaitan dengan kemajuan hidup berbangsa dalam era reformasi. Dra Ita Fatia Nadia, MA membawakan materi dengan tema ‘Reformasi dan Hak Perempuan’, Wahyudi Jafar, SH mempresentasikan tema ‘Menelusuri Komitmen Reformasi: Capaian dan Tantangan dalam 20 Tahun Perjalanannya’, Dr. Jonas Gobang membawakan materi ‘Reformasi dari Perspektif Komunikasi Politik’ dan P. Dr. Otto Gusti menyampaikan tema ‘Populisme dan Tantangan Demokrasi’.

Capaian dan Tantangan

Ada beberapa capaian yang telah diraih bangsa Indonesia selama masa reformasi ini. Seperti diungkapkan oleh pembicara pertama, ibu Dra. Ita Fatia Nadia, MA, negara sudah mulai memperhatikan pemenuhan hak perempuan meskipun tidak dilakukan secara sempurna. Salah satu bukti nyata keberpihakan pemerintah dalam pemenuhan hak perempuan adalah kehadiran KOMNAS Perempuan yang didirikan pada masa presiden Habibie. Pendirian KOMNAS Perempuan ini dilatari oleh pengalaman traumatis kaum perempuan yang sering menjadi korban kekerasan fisik dan pemerkosaan.

Usaha memenuhi hak perempuan ini bukan tanpa tantangan, sambung ibu Fatia pada bagian lain. Darah keturunan cina itu mengatakan neolibralisme dan populisme berbasis konservatisme agama merupakan dua bentuk halangan bagi penegakan hak perempuan. “Pada saat reformasi, kita bisa menuntut presiden untuk memenuhi hak-hak perempuan. Habibie memberikan keputusan untuk mendirikan KOMNAS Perempuan. Apakah UU dan kerja KOMNAS Perempuan itu brhasil? Tantangannya adalah populisme berbasis konservatisme agama dan populisme kanan. Populisme kanan itu juga berhubungan dengan neoliberalisme,” demikian tutur lengkap mantan Komisioner Komnas Perempuan RI itu.

Pada bagian lain, Wahyudi Jafar, SH menyoroti perkembangan kehidupan bangsa di era reformasi ini dengan bertolak dari 6 butir agenda reformasi. Pembicara kedua itu menyebutkan ada 6 tuntutan reformasi yakni tegakkan supremasi hukum, pemberantasan KKN, adili Soeharto dan kroninya, amandemen UUD 1945, cabut dwifungsi ABRI, dan yang terakhir adalah otonomi daerah seluas-luasnya. Pria Deputi Direktur Riset ELSAM itu mengungkapkan berbagai contoh capaian bangsa Indonesia sebagai kelanjutan perwujudan masing-masing butir tuntutan reformasi. Pria berkacamata yang biasa disapa Wahyudi itu menyebutkan salah satu contoh capaian era reformasi adalah amandemen konstitusi sebanyak empat kali.

Wahyudi juga mengatakan amandemen konstitusi yang dilakukan sebanyak empat kali merupakan sandaran bergerak bagi bangsa Indonesia di era reformasi ini. “Amandemen konstitusi sudah dilakukan sebanyak empat kali. Amandemen pertama pada tahun 1999, amandemen kedua pada tahun 2000, perubahan ketiga pada tahun 2001 dan perubahan keempat pada tahun 2002. Berbagai amandemen konstitusi itu merupakan dasar utama berbagai perubahan kebijakan di era reformasi ini,” jelas Wahyudi kepada peserta seminar.

P. Dr. Otto Gusti Madung secara khusus mengurai tema tantangan bagi demokrasi di era reformasi. Tantangan bagi demokrasi di era reformasi sekarang ini adalah populisme, teknokrasi, antipluralisme dan fundamentalisme. “Baik populisme maupun teknokrasi (demokrasi instrumental) sama-sama tidak membutuhkan diskursus publik dan parlemen sebagai locus untuk mendiskusikan pelbagai opsi politik yang plural guna melahirkan keputusan-keputusan yang mengejutkan,” demikian kata Otto dalam uraiannya. “Dalam wajah populisme dan teknokrasi,  dua model fundamentalisme atau radikalisme dalam politik bertemu dalam satu sikap bersama antipolitik,” kata dosen HAM dan filsafat Politik di STFK Ledalero itu.seminar quo vadis

Menarik dan Meriah.

Seminar yang bertemakan “20 Tahun Reformasi: Quo Vadis?” itu juga dihadiri oleh berbagai utusan elemen masyarakat dan pemerintah. Dalam seminar itu turut hadir beberapa narasumber kedua, yakni Plt. Bupati Sikka, Kapolres Sikka, Unsur Pimpinan Kejaksaan Sikka, Para Pasangan Calon Bupati, P. Leo Kleden selaku akademisi, beberapa tokoh agama dan tokoh masyarakat serta beberapa jurnalis media daring maupun media cetak. Kehadiran beberapa narasumber kedua ini membuat diskusi berjalan menarik.

Seminar nasional ini juga dihadiri oleh beberapa mahasiswa dari UNIPA Maumere, GMNI Maumere, STFK Ledalero, masyarakat luas dan para peliput berita. Persembahan lagu dari accoustic all STFK Ledalero, vocal group dan english club UNIPA Maumere turut memeriahkan kelangsungan seminar. Seminar yang berlangsung menarik dan meriah itu ditutupi dengan acara makan siang bersama.

(Arsen Jemarut)    

 

   

seminari ledalero ristek dikti alberta kanada2 perpus cogito plti sinta kover penerbit ritapiret kopertis8